MUKOMUKO – Dalam rangka menghadirkan inovasi yang selaras dengan program serta visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Mukomuko terkait kemandirian desa, Pemerintah Kecamatan XIV Koto menggelar Launching Pengolahan Sampah, yang bertempat di Aula Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko.

Pemerintah Kecamatan XIV Koto mendukung penuh visi Bupati tersebut. Salah satunya dengan menjadikan Desa Lubuk Sanai menjadi pilot project melalui Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas dan budidaya maggot sehingga dapat memberikan income pendapatan bagi desa dan rumah tangga melalui ekonomi sirkular.

Dimana, sampah selama ini dipandang sebagai sumber penyakit, lingkungan tidak bersih dan tercemarnya polusi udara. Tapi jika ini dikelola dengan baik, maka akan menjadi sumber pendapatan bagi desa dan rumah tangga.

Konsep inilah yang tengah di edukasikan ditengah masyarakat. Tentunya semua membutuhkan dukungan dari masyarakat dan kolaborasi semua pihak, karena proses pemilahan sampah organik dan non organik harus dilakukan oleh setiap rumah tangga dan nantinya BUMDes yang akan melakukan penjemputan disetiap rumah tangga.

Sampah organik dapat dimanfaatkan dengan budidaya maggot dan sampah non organik dapat langsung dijual atau didaur ulang dengan sentuhan teknologi kedepan nantinya, semua itu butuh proses.

Kades Lubuk Sanai III, Mutriadi, menyampaikan rasa terima kasih dan kesiapannya menjalankan inovasi program dimaksud dan sudah menyiapkan lembaga pengelola, payung hukum dan teknis pelaksanaannya.

“Langkah-langkah pembagian kuisioner dan wawancara perwakilan rumah tangga juga sudah dilakukan dan Alhamdulillah mayoritas mendukung program Inovasi ini. Teknis pelaksanaan tentu membutuhkan pendampingan advokasi dari Pemerintah Kecamatan XIV Koto dan pihak terkait lainnya,” ujarnya, Rabu (10/12).

Sementara itu, Wakil Bupati Mukomuko, Rahmadi, AB, dalam sambutannya menyambut baik inovasi kreatif yang diinisiasi oleh Camat XIV Koto dan Pemerintah Desa Lubuk Sanai. Dirinya berharap, Kades bersama pengelola Bank Sampah ini dapat ikut studi tiru di Desa Pulai Payung, Kecamatan Ipuh.

“Nanti saya harapkan pak kades dan pengelola Bank Sampah ini bisa belajar atau studi tiru di Desa Pulai Payung, Kecamatan Ipuh yang sudah bagus dalam memanagement pengelolaan bank sampah yang bisa menyerap tenaga kerja serta memberikan income Pendapatan Asli Desa. Harapan saya setiap kecamatan ini punya minimal satu Desa yang sudah bisa menghasilkan PADes dengan berbagai inovasi yang dilakukan sehingga tidak bergantung pendanaan dari pemerintah pusat maupun Daerah dalam melakukan aktivitas pelayanan publik di Desa. Dukungan semua pihak sangat diharapkan sehingga kreativitas pengelolaan bank sampah berbasis komunitas ini bisa berjalan dengan baik,” tandas Wabup Rahmadi.(GJR)