MUKOMUKO – Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Mukomuko, Singgih Pramono, S.Sos., MH, meluncurkan sebuah narasi ajakan yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Dengan tajuk lokal yang kental, “Molah Awak Bapiki Samo-samo Mbuek Mukomuko Maju Berkelanjutan”, inisiasi ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah seruan intelektual untuk melibatkan partisipasi publik dalam pembangunan daerah.

Secara harfiah, kalimat tersebut berarti “Mari kita berpikir bersama-sama untuk membuat Mukomuko maju berkelanjutan.” Penggunaan bahasa daerah dalam diskursus pembangunan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjembatani antara kebijakan teknokratis pemerintah dengan aspirasi akar rumput.

Dalam keterangannya, Singgih Pramono menekankan bahwa masa depan Kabupaten Mukomuko tidak bisa hanya ditentukan di atas kertas meja kerja birokrasi. Menurutnya, esensi dari pembangunan yang berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengintegrasikan kecerdasan kolektif masyarakat.

“Pembangunan yang visioner membutuhkan pondasi kolaborasi. Melalui ajakan ini, kita ingin membangun kesadaran bahwa setiap warga memiliki saham intelektual untuk merumuskan arah masa depan Mukomuko,” ujar Singgih, Minggu (5/4).

Fenomena viralnya ajakan ini di media sosial seperti Facebook dan platform lainnya menunjukkan adanya dahaga komunikasi publik yang lebih humanis. Para netizen menyambut positif pendekatan ini karena dianggap mampu meruntuhkan sekat eksklusivitas antara pejabat publik dan masyarakat umum.

Langkah yang diambil oleh Kepala Bapperida ini dipandang sebagai manifestasi dari konsep Open Government, di mana transparansi dan kolaborasi menjadi kunci utama. Dengan spirit “Molah Bapiki Samo-samo, Mbuek Mukomuko Maju Berkelanjutan”, diharapkan lahir kebijakan-kebijakan yang lebih akurat, tepat sasaran, dan memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Inisiasi ini diharapkan menjadi momentum titik balik bagi Kabupaten Mukomuko untuk melakukan akselerasi pembangunan di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga pemberdayaan ekonomi kreatif, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur budaya setempat.(GJR)