MUKOMUKO – Ironi infrastruktur kembali mencuat di jantung Kabupaten Mukomuko. Selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Marga Mukti, Kecamatan Penarik, dipaksa akrab dengan kubangan lumpur dan debu tebal pada ruas jalan utama yang menghubungkan Desa Marga Mukti menuju Desa Wonosobo. Meski statusnya merupakan akses vital bagi mobilitas ekonomi dan sosial, perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko dinilai masih nihil.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, jalur sepanjang 1,5 kilometer tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan. Lubang-lubang dalam yang digenangi air hujan tampak menghiasi badan jalan, menciptakan rintangan berbahaya bagi pengendara. Bagi warga setempat, jalan ini bukan sekadar jalur transportasi, melainkan urat nadi perekonomian yang kini kian sekarat.

Kepala Desa Marga Mukti, Marwanto, melalui Sekretaris Desa, Arifin, S.Pd., menegaskan bahwa kerusakan jalan ini telah mencapai titik jenuh. Kondisi jalan yang masih berupa koral membuat risiko kecelakaan meningkat tajam, terutama saat cuaca ekstrem.

“Di musim hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur, sangat rawan kecelakaan bagi pengendara motor. Sebaliknya, saat kemarau, debu tebal dan bebatuan lepas tidak hanya mengganggu kesehatan tetapi juga merusak kendaraan warga,” ujar Arifin saat dikonfirmasi, Rabu (15/5).

Lebih jauh, Arifin menyoroti dampak sistemik terhadap sektor hilir. Para petani dan pelaku usaha kecil menjadi pihak yang paling terpukul. Biaya logistik yang membengkak akibat kerusakan jalan menghambat distribusi hasil pertanian, yang secara otomatis menekan pendapatan masyarakat desa.

Hal yang paling mengecewakan bagi masyarakat adalah pengabaian aspirasi yang bersifat sistematis. Pembangunan jalan dengan konstruksi hotmix diklaim selalu menjadi usulan prioritas dalam setiap forum Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Namun, hingga memasuki tahun anggaran 2026, sinyal pembangunan dari pemerintah daerah tak kunjung tampak.

Pemerintah Desa Marga Mukti mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mukomuko untuk tidak lagi menutup mata. Mereka berharap pembangunan jalan hotmix di wilayah ini masuk dalam skala prioritas pembangunan infrastruktur pada tahun anggaran mendatang.

“Kami hanya meminta hak masyarakat atas infrastruktur yang layak. Perbaikan jalan ini adalah kebutuhan mendesak yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jangan sampai masyarakat merasa dianaktirikan dalam pemerataan pembangunan,” tegas Arifin.

Kini, bola panas berada di tangan Pemerintah Kabupaten Mukomuko. Apakah pembangunan di tahun mendatang akan tetap berfokus pada proyek seremonial, ataukah berani mengeksekusi kebutuhan fundamental masyarakat di Desa Marga Mukti? Publik menanti bukti nyata, bukan sekadar janji di atas kertas Musrenbang.(GJR)